Minggu, 20 April 2014

ucapan-ucapan itu...

[1]

sajadah indah nan berseri
jadi hiasan di hari suci
sms datang penganti diri
tanda ikatan silaturahmi

mari sucikan diri
dengan saling bermaafan

[2]

"Kadang mata salah melihat
bibir salah mengucap
tangan tak bisa berjabat"

walau hanya dengan tulisan
marilah kita saling memaafkan
dengan itu, semoga kita diberkahi

[3]

Balebat idul fitri tos dongkap
nganteur ngalangkang catetan amal nu meh wekasan
bilih aya kalepatan
luhur saur bae carek basa nu pasalia
janji nu teu pasini
paneda dihapunten tina sadaya kalepatan

[4]

ya Allah...
ijinkan hamba untuk kembali berbuka
untuk kembali merdeka
berikan hamba kesempatan
untuk kembali fitri sebagai makhluk sosial
ridoi hamba menggapai kemenangan
dan merajut kembali silaturahmi yang terputus
di akhir kemuliaan ramadhan

[5]

Tiada kata yang indah selain "Maaf"
tiada perbuatan yang lebih mulia selain "Memaafkan"
tiada yang saling melegakan selain "dimaafkan"

walau tangan tak berjabat
mata tak bertatap
ucap tak terdengar

[6]

Bila ada terselip khilaf
tergores luka dalam hati,
terbelit pilu dalam tingkah,
tersinggung rasa dalam bicara

semoga kita tetap bersama dalam satu jembatan
satu do'a, satu tujuan dalam ridho dan maghfiroh Allah
sucikan hati dan jiwa

[7]

Manusia bukanlah kertas putih tak bernoda,
ada titik dimana emosi memasung nurani & logika

[8]

Meniti hari,
menata hati,
mengharap ridho Ilahi

tiada pemberian yang terindah selain kata maaf,
tiada perbuatan yang termulia selain memaafkan,

andai tangan tak sempat berjabat,
setidaknya seuntai kata masih dapat terungkap

Tipu Daya Setan

Fakta menyatakan bahwa manusia dilahirkan untuk menjadi aktor kehidupan.

Secara garis besar, masa hidup manusia terbagi dalam tiga fase: awal, sekarang, akan datang. Fase awal pasti sudah terlewati oleh setiap makhluq yang sekarang hidup, dimana ruh ditiupkan ke dalam raga ketika manusia berada dalam kandungan ibu tercinta. Alam ruh dan alam kandungan adalah proses awal dimana manusia dipercaya penuh oleh Allah sang Khaliq untuk menjadi khalifah di muka bumi selama hayat dikandung badan.

Selama sembilan bulan dalam kandungan, (calon) manusia ditempa dengan berbagai asupan dlohir dan bathin supaya menjadi makhluq yang fitrahnya terjaga sampai ajal tiba. Di masyarakat kita, ada budaya "upacara 4 bulan" dan "ritual 7 bulan". Masyarakat Tatar Sunda contohnya, ada upacara mengandung 3 Bulan dan 5 Bulan dilakukan sebagai pemberitahuan kepada tetangga/kerabat bahwa pengandung itu sudah betul-betul hamil, karena seorang perempuan yang mengandung 2 atau 3 bulan belum disebut hamil.

Adapun berubahnya waktu upacara kehamilan menjadi empat bulan, karena pada usia kehamilan itulah saat ditiupkannya roh oleh Allah SWT. pada jabang bayi. Biasanya pelaksanaan upacara Mengandung empat Bulan ini mengundang pengajian untuk membacakan do’a selamat, biasanya doa nurbuat dan doa lainnya agar bayinya mulus, sempurna, sehat, dan selamat.

Dari keseluruhan proses itu semua, ada satu makhluq yang selalu menguntit kemanapun kita pergi, yaitu syaithon ar-rajiim. Kebersamaan makhluq yang satu ini tidak lain dan tidak bukan untuk memanfaatkan kelemahan kita

Sabtu, 08 Januari 2011

Tiada yang tidak bisa kita kerjakan

Berbahagialah orang yang berhati tulus dalam setiap tarikan nafasnya,
yang senantiasa ikhlas menjalani apapun ketentuan dan jalan hidup yang Allah berikan untuknya,
yang senantiasa berbaik sangka bahwa sesulit apapun perjalanan jika dilalui dengan harapan dan do'a akan menuju akhir yang gemilang... insya Allah

Awalnya adalah perkuliahan Prof. Afif Muhammad ketika menyampaikan bahwa kita bisa "memesan" usia berapapun kita mau, seperti gadget yang terus hidup karena terus menerus memperoleh asupan energi. Tatkala melemah energinya, kita charge ulang baterai-nya.

Jumat, 11 Juni 2010

segeralah ber-SUJUD!!!

Allah berfirman dalam surat Yunus:

“Dan kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia, “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” [90]

"Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal Sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan." [91]

"Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan Sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami.” [92]

Wahai saudara-saudaraku, ayat 92 di ataslah yang membuat Prof Dr Maurice Bucaille, seorang ahli bedah kenamaan Prancis dan pernah mengepalai klinik bedah di Universitas Paris, pemimpin ahli bedah sekaligus penanggung jawab utama dalam penelitian mumi, yang sejak tahun 1973 menjadi dokter keluarga Raja Faisal, menyatakan dirinya hijrah menjadi Muslim.

Allah berkisah Fir'aun dalam al-Qur'an supaya kita mengambil pelajaran berharga, kukuh dalam menjalankan agama, yakin bahwa Islam adalah agama yang haq, dan kita tidak hanya ber-Islam di permukaan saja, tapi mengawal syariatnya dalam aktivitas keseharian kita. Jadikan kita sebagai pembela panji-panji Allah dengan tetap membumikan syariat-syariat tersebut dalam perilaku kita sehari-hari.

Keterlambatan Fir'aun ber-Islam hingga nyawa hampir meregang, memberikan pelajaran bagi kita untuk jangan bermain-main dengan keimanan kita. Ketika Allah meminta kita untuk "kaaffah", jangan sekali-kali kau menduakan "cinta" hanya karena kilauan dunia yang besok lusa akan binasa. Ketika Allah meminta umat Muhammad untuk mati dalam keadaan "berserah diri", maka kawallah cita-cita itu dengan perilaku dan sifat-sifat yang membawa kita terus menerus mendekatkan diri kepada-Nya.

Mungkin hal itu pulalah yang membuat Mas Ebiet G. Ade membuat lagu "Masih Ada Waktu"


Bila masih mungkin Kita menorehkan batin

Atas nama jiwa Dan hati tulus ikhlas

Mumpung masih ada Kesempatan buat kita

Mengumpulkan Bekal perjalanan abadi

kita masih ingat tragedi yang memilukan

kenapa harus mereka yang berdiri menghadang

tentu ada hikmah yang harus kita petik

atas nama jiwa mari mengheningkan cipta


kita mesti bersyukur bahwa kita masih diberi waktu

entah sampai kapan tak ada yang dapat menghitung

hanya atas kasihnya hanya atas kehendaknya

kita masih bertemu matahari


kepada rumput ilalang

kepada bintang gemintang

kita dapat mencoba meminjam catatannya

sampai kapankah gerangan

waktu yang masih tersisa

semuanya menggeleng

semuanya terdiam

semuanya menjawab tak mengerti

yang terbaik adalah segeralah bersujud

mumpung masih diberi waktu


Ya Allah... jagalah keislaman kami, jadikan keimanan kami sebagai pembuka pintu surgaMu, meski kami harus melewati nerakaMu, semoga Engkau ridhoi kami untuk menikmati kasihMu. Selama waktu yang tidak berbatas di hari akhir, semoga selama itu pula ridho-Mu menyertai kami.

God bless you forever

Amien



Rabu, 09 Juni 2010

BOHONG alias dusta

Saya belum mendapatkan jawaban, kenapa setiap kali mendengar kalimat "jangan ada dusta diantara kita" telinga saya merasa terganggu, hati saya menjadi keruh, otak jadi agak kelu. Apalagi diucapkan oleh mereka-mereka yang sedikit "melecehkan". Setan semakin bersemangat memanasi otak dan hati saya. Terlihat iya, tapi senyatanya tidak disertai hati. Jika terlontar, titik tekan kalimat itu adalah "begitu populisnya ungkapan itu" sehingga substansinya menjadi tersembunyi.

Jika seseorang ingin mengatakan sesuatu, getaran hatilah yang menyatakan bahwa ia serius dengan ungkapan itu. Semakin banyak kalimat orang yang dipertautkan dengan ungkapan-ungkapan populis, maka tujuan utamanya menjadi terabaikan. Jika untuk menarik perhatian orang, perlakukan/tempatkan kata-kata populis itu ketika sedang pendahuluan, ketika sedang pemanasan, ketika sedang menyampaikan gagasan, ketika sedang membaca pikiran seseorang: "apakah ia dungu, biasa-biasa saja, cukup cerdas ataukah sangat cerdas?"

Menghindari dusta harus dilakukan dengan keseriusan, dan itu tidak boleh tercampur dengan bahasa guyonan. Sebaik apapun pelaku-pelaku Overa van Java menyampaikan pesan, pesan itu akan hilang tertelan guyonan yang "menyegarkan", apalagi pemirsanya hanya sekedar menonton sambil menghilangkan penat dan lelah. Secerdas apapun "kata-kata" Dalang Asep Sunandar Sunarya dalam mendakwahi pemirsanya, itu tidak akan berbekas kalau fokus pemirsa ada pada guyonan cepot-gareng-dawala atau intrik-intrik yang disajikan dengan penuh kreasi.

Allah berfirman dalam Q.s. Ali Imron ayat 137: "Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah, karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan." Atau yang lebih menyiksa, adalah firman dalam al-Baqarah ayat 10: "Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah tambah penyakitnya; Oleh karena mereka berdusta, maka Allah timpakan kepada mereka siksa yang pedih".

Begitu dahsyatnya akibat dusta, Allah mewanti-wanti dengan berbagai kejadian dan kenyataan bahwa dusta itu tiada berguna, karena yang ada hanyalah kerusakan pangkat 10 bahkan pangkat sejuta. Indonesia contohnya. Semua yang sadar di Indonesia tahu bahwa dusta telah menyebabkan Indonesia penuh ironi. Negara kaya, tapi tersiksa. Katanya merdeka, tapi sengsara. Penduduknya banyak, tapi "semua" melarat. Dan yang membuat semakin terpuruk adalah terpeliharanya kedustaan itu dalam sistem negara.

di Indonesia, orang tidak malu menuntut 15 milyar karena merasa "berjasa" pada negara. Padahal, mengelola take home pay aja masih sambit kiri sambit kanan. Ia telah berdusta pada akal sehat, dan ia tutupi hati nurani dengan lembaran rupiah yang sudah salah. Rekan yang mengingatkan pun ia lewati dengan kekerasan hati. Ajaran Rasulullah tentang amanah pun ia campakkah dengan wahn "cinta dunia takut mati". Memangnya mereka akan hidup selamanya di dunia?

Alangkah berbahagianya setan yang berhasil mengajak manusia untuk berdusta. Ia dan kawan-kawan di negara syetan akan terkekeh habis melihat bangsa Indonesia yang "sadar" terpuruk, tapi tetap sadar mengeruk yang bukan hak. Ia lupa statusnya sebagai khalifah yang diutus Allah untuk beribadah. Syetan merasa sangat senang melihat orang Indonesia yang mengaku-ngaku mampu mengelola negara, tapi nyatanya tak becus mengurus harta. Slogan amanah sebagai pesan agama, ia kubur dalam-dalam di gunung-gunung yang gundul. Tak peduli teman apalagi lawan, ia tekan dengan kesewenang-wenangan.

Ha..ha..ha..ha.. setan terbahak-bahak. "Aku senang berada di Indonesia". Teman-temanku di neraka pastilah orang Indonesia. Dan diantara mereka adalah orang Islam yang dungu, tolol, bodoh, dan sontoloyo. Mereka berada di sini denganku karena mereka dustai hatinya, di-caesar nuraninya. Mereka mengaku beragama, tapi al-Qur'an hanya pajangan di rumahnya. Majelis ta'lim dan dzikir diselenggarakan di rumahnya, tapi sungguh nihil substansinya. Mereka bergelar "H." di depan namanya, tapi itu demi statusnya di masyarakat.

Allahu Akbar wa lillah al-hamd
baarakallahu lii wa lakum
astaghfirullah...

Rabu, 19 Mei 2010

Husnu adl-Dlon(i) is opposite Negative Thinking

Sudah jelas bagi orang-orang kafir bahwa tempat kembali mereka adalah Neraka Jahannam, yang Allah gambarkan sebagai tempat kembali yang paling jelek. Ketika orang-orang menikmati ketenangan dan kedamaian rumah (dunia) saat kembali dari tempat kerja, kembalinya orang-orang kafir saat hari akhir (prosesi pertanggungjawaban akhirat) sudah ditunggu oleh api neraka yang menyala-nyala. Jangankan tersentuh, merasakan udara panasnya pun, daging & belulang kita seketika jadi abu.

Secara sederhana, istilah kembali berarti akan ada kehidupan (kita akan hidup lagi) setelah kita mati. Mayoritas --bahkan semua, kuffar tidak percaya adanya hari ba'ats (kebangkitan) setelah alam kubur dilewati. Mereka tidak percaya bahwa setelah mati itu ada kehidupan lagi. Kehidupan abadi yang Allah persembahkan untuk seluruh hamba-Nya sesuai dengan jihad mereka di dunia. Mereka yang berjuang, Allah berikan kesenangan, mereka yang bersenang-senang, Allah berikan kesempatan untuk merasakan bagaimana perjuangan menghindari kesesatan yang dibungkus dengan kesenangan dunia.

Sebelum alam pembalasan dimulai, Allah perjalankan semua makhluq-Nya yang bernama manusia menuju mahkamah Allah yang Maha Adil. Di alam mahsyar, semua orang akan diminta pertanggungjawabannya atas segala perbuatan ketika di dunia. Mulut yang saat di dunia pandai bersilat, Allah kunci dengan rapat. Tidak ada lagi siasat, nego yang sesat, atau kebohongan-kebohongan yang menghancurkan. Kemudian bersaksilah tangan-tangan dan kaki-kaki mereka. Allah buktikan bahwa ayat 65 surat Yasin itu bukan hanya untuk dibaca saja, tapi untuk dipikirkan, direnungkan, dan diaplikasikan ketika di dunia.

Salah satu perbuatan kuffar di dunia yang sering Allah peringatkan adalah negative thinking terhadap Allah. Alam pikir dan memori cerdas yang telah Allah berikan sejak saat kelahiran, hanya mereka pergunakan untuk mempertanyakan dan terus mempertanyakan, kenapa Allah begini, kenapa Allah begitu, tidak berfikir menggunakan akalnya untuk mencerna dan memahami keagungan Allah atas segala sesuatu yang ada di dunia ini.

Meski sudah berkali-kali diberitahu, mereka belum sadar bahwa kemampuan kaki untuk berjalan, gerakan tangan beraktivitas, mata yang mendelik-delik, telinga yang berlubang, hati yang berdegup kencang, hidung yang sesak dengan oksigen, mulut yang seksi, bahkan dua lubang pembuangan, itu adalah karunia Tuhan yang patut disyukuri. Allah bukan peminta-minta, tapi setidaknya manusia mafhum jika Allah minta disembah (ibadah). Persembahan yang diminta pun tidak seberat upacara-upacara adat, dan tidak semahal larungan. Allah hanya minta iman, islam, dan ihsan selama manusia dipercaya di dunia: sejak ditiupkannya ruh sampai Allah panggil pulang melalui malaikat Izrail.

Allah tidak minta manusia untuk mempertanyakan kenapa Allah ciptakan lalat, tapi ALlah menantang manusia untuk membuktikan kehambaannya supaya membedah lalat yang kecil dengan kecerdasan akal. keluhuran budi, dan kerendahan hati. Kemudian, persembahkan hasilnya demi kesejahteraan masyarakat atas nama Allah. Allah tidak minta diagung-agung melalui upacara. Atas nama Dewi Sri, Allah tereliminasi, padahal kalau Yang Kuasa mau, tidak perlu berdetik-detik untuk menghancurkan Dewi Sri. Allah juga tidak minta dilarung atas nama Ratu Laut Kidul. Allah hanya minta, singkirkan kemubadziran, suburkan infaq, jauhi maksiat, syukuri nikmat, dekati rahmat, supaya malaikat lelah mencatat seluruh amal kita.

Saat ini, di dunia manajemen modern, negative thinking adalah perilaku yang menghancurkan tatanan kelembagaan, baik yang mikro maupun yang makro, baik nirlaba apalagi yang berorientasi laba. Mayoritas pelaku sepakat bahwa negative thinking jangan pernah dibawa-bawa dalam pengelolaan. Sekecil atom perasaan negatif terhadap rekan mampu menumbuhkan kecemburuan, menimbulkan ketidakpercayaan, bahkan menjadi benih-benih permuhuhan. Pembunuhan negative thinking terjadi dimana-mana, bahkan yang belum terjun dan belum merasa wajib tahu pun diajak serta assasination.

Jika di dunia bisa dilakukan, kenapa terhadap Allah malah berkebalikan?
Allah janjikan bahwa infaq akan dibalas 10x lipat bahkan 700 faktor perkalian. Kenapa pula logam 100 masih terlempar tatkala Tuhan "mengutus" peminta-minta datang menguji. Bahkan jika tidak mau ngasih pun, lebih rela mata melotot, pasang wajah sangar, dan menampilkan ekspresi melecehkan (merendahkan) dari pada menampilkan bibir tersungging senyuman. Koropak di masjid pun laksana di jalan bebas hambatan. Apakah manusia belum sadar juga, tabungan dunia rawan Century, Bank Duta, dan Bank Bali. Keagungan Allah malah "dilecehkan" dengan film-film bermuatan haram.

Dalam ujian kesucian harta, Allah minta zakat demi kemaslahatan. Tapi apa mau dikata, manusia balas dengan keberatan dan kepura-puraan. Fitrah saja sudah cukup!! uang saya sudah habis untuk keperluan. Kalkulasi pakar ekonomi ahli zakat hanya cukup sampai kertas saja. Trayeknya dilarang sampai kebijakan, karena banyak proyek bertumbangan. Subhaanallah... setan memang cerdas melupakan Tuhan di akal dan hati manusia.

Akhirnya, ujian kita kali ini adalah apakah negative thinking (su'udlon) akan menjadikan kita Musyrik, ataukah cukup orang-orang musyrik saja yang selalu berpikiran jelek?

wallahu a'lam
astaghfilullah al-adliim

Selasa, 18 Mei 2010

Bagaimana sang Baginda mendidik?

"Adakah seorang pengajar dan pendidik yang lebih mulia,
lebih tinggi,
dan lebih agung dari Rasulullah SAW.?!"

Indah rasanya jika saya memutar waktu 1479 tahun ke belakang, dimana Rasulullah memulai tugasnya sebagai utusan Allah untuk mencerahkan peradaban yang sudah hancur. Bagaimana tidak indah, sejak saat itu sampai 23 tahun kemudian, setiap detik yang dilewati adalah tabungan kenikmatan abadi yang akan diraih saat hari Akhir. Apalah artinya 23 tahun berjuang/jihad bersama Rasul jika balasan Allah SWT. tiada taranya: Surga selama-lamanya! Apapun yang diminta, akan terkabul saat itu juga, tanpa harus memikirkan haram-halal dunia.

Ketika Rasul ada, apapun masalahnya, semua disertai solusinya. Solusi yang selalu menguntungkan bagi semua, saat ini dan di waktu yang akan datang. Sebagai pusat perhatian, sang Baginda adalah magnet yang mampu menarik siapapun yang berada di sekelilingnya. Setiap kebersamaan adalah kenikmatan. Rasul mampu memotivasi sahabat-sahabatnya untuk sumpah setia membela panji-panji agama. Meskipun mendapatkan keistimewaan dari Allah, tidak ia gunakan privelege itu untuk kesewenang-wenangan.

Jika membaca sejarah, keistimewaan itu Baginda peroleh melalui perjuangan yang tak kenal lelah. Sejak bayi, sang Baginda sudah berpisah dengan ayah (yang meninggal) dan ibunya, melewati 2 tahun susuan di Bani Sa'ad yang mendapatkan kehormatan dan kemuliaan menyertai Rasul. Halimah as-Sa'diyah, yang di awal pertemuan merasa tidak akan mendapatkan keuntungan --karena Rasul yatim-- memperoleh keberkahan yang luar biasa, sehingga ia merasa keberatan mengembalikan Rasul ke pangkuan ibunya.

Ketika berusia 6 tahun, Rasulullah dibawa ibunya mengunjungi paman-pamannya dari Bani Adi bin Najjar di Yatsrib (Madinah). Dalam perjalanan ini, Siti Aminah ibunya, meninggal dunia di Abwa dan dikuburkan di sana. Dua 2 tahun kemudian, kakeknya Abdul Muthallib meninggal dunia ketika Rasulullah saw. berusia 8 tahun. Terpaan itulah --menurut penulis-- yang menempa Rasul menjadi pribadi yang mulia, sehingga Aamul Huzni pun ia lewati dengan sukses.

Betapa beratnya duka yang harus ditanggung Rasulullah SAW saat menghadapi rentetan tekanan, baik fisik maupun non fisik, dari para pemuka kafir Quraisy. Sejarah mencatat, 11 tahun pasca kenabian, paman Rasulullah --Abu Thalib, adalah orang yang sangat berpengaruh di masyarakat Quraisy-- wafat. Perisai yang setiap saat memberikan perlindungan kepada Nabi, Allah ambil sebagai ujian kenaikan kemuliaan Rasul. Tak berapa lama kemudian istrinya tercinta Siti Khadijah ra. juga meninggal. Orang yang sangat Rasul sayangi, karena pengorbanan dan kebersamaannya, karena mampu
menghidupkan jiwa saat kesukaran; Allah ambil juga untuk memberikan kabar gembira bahwa istrinya lebih dicintai Allah, dan mendapatkan tempat yang mulia di sisi-Nya.

Di awal kenabian, kita harus mengingat bahwa tugas yang sangat berat untuk mengatakan kepada kaum Quraisy bahwa saya adalah utusan Allah untuk mengajak kalian semua kembali ke jalan Allah. Oleh karena itu sangat
wajar jika banyak orang mengatakan sang Baginda gila/tak waras. Rasulullah yang bukan pembesar kaum Quraisy mengajak para pembesar untuk memeluk Islam, agama/ajaran yang itu bertolak belakang dengan perilaku keagamaan (kepercayaan) mereka saat itu. Hanya Abu Bakar-lah orang yang pertama membenarkan kerasulan Muhammad SAW., sehinga beliau mendapatkan gelar ash-Shiddiq.
Kita
juga boleh membayangkan bagaimana posisi Rasul dan Abu Bakar dan kaum Quraisy saat itu. Boleh dikatakan bahwa mayoritas orang akan bertanya-tanya tentang apa yang dibawa, siapa yang membawa, dan bagaimana efeknya: menguntungkan atau merugikan.

Sekali lagi, karena
keseluruhan proses itulah, Rasulullah dicintai sahabat-sahabatnya dan disegani musuh-musuhnya. Hanya orang bodohlah yang selalu memusuhi dan menjauhi Rasul, serta menghasut dan menipu daya orang-orang yang mempercayai Rasul. Itu tidak lain karena tidak ada celah sedikitpun yang bisa dimanfaatkan untuk menyerang Rasul, bahkan dengan logika ilmiah (rasionalisasi akal yang selalu dipuja-puja Barat) sekalipun.

Dari ketika menyampaikan risalah, sang Baginda tidak pernah membentak (qahara), tidak memukul (dharaba), dan tidak mencaci (syatama). Beliau lemah lembut (rafaqa) terhadap orang yang tidak mengerti, dan ramah (lathafa).

Sebelum dimulai, Rasul ucapkan bahwa tujuan menuntut ilmu itu adalah untuk mencari "wajah" Allah, bukan yang lain. Dan diantara metode terpenting dari Rasulullah dalam mendidik ummat manusia adalah dengan teladan terbaik, serta bergaul dengan akhlaq yang mulia. Ketika Rasul menghukum, itu semata-mata demi perbaikan, ia iringi hukuman itu dengan nasihat, bukan pelampiasan atau dendam. Apalagi seakan-akan mendapatkan justifikasi, ada kesempatan memukul dengan dalih menghukum, itu sangat dilarang!!!

Saya kutip hikmah Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya: "Barang siapa yang didikannya dengan kekerasan, baik oleh guru, tuan, atau pembantu, maka ia akan terbiasa keras. Kekerasan akan selalu menyempitkan dadanya, menghilangkan semangatnya, membuatnya malas, mendorongnya berdusta, dan bersikap keji karena khawatir ada tangan yang akan melayang melakukan tindakan kekerasan. Kekerasan mengajarkannya tipu daya dan makar, dan akan menjadi kebiasaan dari perilakunya, serta rusaklah nilai-nilai kemanusiaan yang ada pada dirinya."

Banyaknya pukulan tidak akan menambah apapun pada anak kecuali kekerasan dan kebandelan. Hukuman apapun tidak boleh menyentuh kehormatan anak, dan tidak menjadi penghinaan bagi dirinya. Ingat wahai guru, Kepribadian anak harus dijaga, kehormatannya harus terpelihara. Kekerasan adalah musibah yang melahirkan banyak masalah sosial di masyarakat. Hal itu akan membuat anak mati perasaannya, lemah kemauannya, labil keyakinannya, hilang harapannya, semangatnya turun drastis.

Apakah generasi seperti itu yang akan melanjutkan tongkat estafeta perjuangan kita?
Hai orang tua, apa rela anak-anak Bapak/Ibu dibuat dan dicetak demikian oleh guru-guru di sekolah? Bangkitlah, berdaya lah, merdeka lah, jangan menyerah dengan keadaan yang diciptakan lemah oleh diri sendiri. Ciptakan keseimbangan pendidikan, awasi didikan dan pendidik yang tidak karuan. Ingatkan mereka dengan hikmah wal mau'idlotil hasanah.

Sadarilah, bahwa kehancuran kepribadian dan fitrah anak Bapak/Ibu tidak tergantikan dengan nominal rupiah, atau gemerencing emas yang Bapak/Ibu upayakan setiap waktu. Dan... itu bukan salah orang lain, tapi kesalahan yang diperbuat oleh diri sendiri. Jangan pernah lagi keluar ucap: "Saya sekolahkan karena di rumah, saya sudah tidak mampu mendidik, saya tidak ada waktu karena sibuk mencari nafkah"

Shadaqallah, astaghfirullah al-Adhiim

Senin, 17 Mei 2010

Fitting Education

Lama saya mencari orang/guru/ahli yang terbuka (radikal, acak-acakan, merdeka, berdaya) dalam metode/model pembelajaran "sa'enak'e dewe". Baru hari ini saya menemukan istilah "fitting education" di arsip lama (2008-07-18) milik pa Joko, M.Pd. Hal itu sering saya cari untuk pembenaran --istilah saya mah, "mencari teman"-- terhadap kegiatan klasikal saya yang "acak-acakan" di sekolah. Meski silabus dan RPP telah disiapkan, tidak mungkin saya berdiam diri melihat gejala-gejala kelas dan anak didik saya yang belum "siap" belajar, yang tidak mungkin saya jejali mereka dengan patokan-patokan yang ada di RPP. Kekuatan saya pun dalam pengelolaan RPP, selama-lamanya 15 menit. Setelah itu, saya "liar" tak terkendali.

Mungkin, fitting pa Joko belum tentu sepadan dengan apa yang saya yakini dan saya laksanakan di kelas. Tapi, kalimat: "
kita mendidik menyesuaikan diri dengan siswa, lingkungan, kebutuhan, dsb. Tidak harus selalu terkekang oleh metode-metode tertentu" membawa saya pada pemahaman yang sama bahwa sebelum masuk kelas, harus kita persiapkan plan A, B, C, D, E, bahkan sampai Z, atau sebanyak jumlah siswa yang ada di kelas. Jadi, saya kasihan sama RPP. RPP tinggallah seonggok dokumen yang biasanya hanya berlaku untuk kegiatan pengawasan (kepala, pengawas, dinas, tim akreditasi), dan sangat jarang dibuka dalam pelaksanaan evaluasi.

Bagi saya, KBM itu adalah latihan bergaul diantara warga sekolah dengan etika yang sempurna sampai kita paripurna, KBM adalah media untuk melatih akhlaq kita demi kemajuan bangsa. Oleh karena itu, saya tidak heran dengan Baginda kita yang bersabda: "Saya diutus untuk menyempurnakan akhlaq". the main point is ethics. Etika akan membawa siswa menghormati guru, membuat guru sayang siswa, menghentikan kepala sekolah memotong bantuan, mencipta sekolah sebagai tempat yang dirindukan peserta didik, dan meramaikan masyarakat dengan budaya yang mendukung majunya bangsa.

Sebetulnya, pejabat-pejabat pengurus pendidikan itu tidak lupa etika, buktinya ada di pasal 3 UU Sisdiknas, dimana "Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab". Namun, yang dilupakan adalah mengajak seluruh komponen bangsa bekerja sama, bahu-membahu, dan berjalan seiring, demi tercapainya fungsi dan tujuan sistem pendidikan nasional tersebut.

Point kerja sama misalnya, sudah sejauh manakah sekolah diajak kerja sama? orang tua diajak kerja sama? guru-guru diajak kerja sama? apakah anak didik juga diajak kerja sama? Yang terjadi adalah kerja sama berbuat dosa". na'udzubillah min dzalik. Indikasinya sederhana, runtuhnya sekolah yang baru dibangun, kepala sekolah yang "setorannya" melebihi gajinya, orang tua yang lebih rela anak-anaknya lulus terpaksa (yang penting ijazah) daripada menerima didikan etika, dan siswa yang berani melempari (merusak) sekolahnya. Padahal, itu baru satu pangkal, yaitu UN yang tidak terurus secara amanah.

Dalam melaksanakan pembelajaran, faktor guru adalah utama. Guru ideal adalah guru yang digugu dan ditiru karena akhlaqnya mulia, terlepas ia mendidik siswa dengan cara apa. Guru yang seperti itu merdeka dalam mendidik siswa, hatinya tenang, suasananya ia buat nyaman, ia rangkul semua faktor kesuksesan dalam kebersamaan. Kebanyakan dari mereka hampir sulit membuat efek jangka pendek, kecuali untuk segelintir anak didik, tabungannya baru dirasakan beberapa waktu kemudian. Namun demikian, dari proses didikan seperti itulah yang memberi dampak melekat, tidak akan sirna walau sekejap, tidak seperti telinga bodong: "masuk kiri keluar kanan, masuk kanan jebol di kiri".

Pemerintah sebagai regulator, fasilitator, dan broker, jangan pernah ganggu mereka dengan provokasi-provokasi yang tidak perlu, terutama provokasi kebijakan: "terlihat memajukan, padahal stagnan". Saya tidak rela, anak didik kita disajikan pemandangan demo guru-guru, rapat-rapat guru, dan guru-guru yang menyambi di dunia lain, atau bahkan hidup di dunia yang menghancurkannya. Pemerintah yang baik seharusnya memberikan kepercayaan yang penuh kepada mereka, berdayakan mereka, jangan biarkan mereka "nyambi", penuhi hak-hak mereka. Pemerintah jangan
lupa pijakan guru itu ada dimana, jangan seperti memperhatikan, padahal menjerumuskan: "dilepas kepalanya, dikunci ekornya". Kalau terus seperti itu, cobalah ingat PENGADILAN di hari akhir nanti, meski hanya 10 detik.

Bagi saya, guru yang fit adalah guru yang setiap saat siap sedia berkomunikasi intensif dengan anak didiknya, dalam suka maupun duka. Guru yang diingat karena kelembutannya, keikhlasannya, dan point-point pendidikannya, bukan karena abuse of power-nya. Secara pribadi, saya punya guru yang terus dikenang, tapi kebanyakan mereka adalah guru-guru yang tidak terkenang, bahkan tidak ada di dalam memori sama sekali. Meski diingatkan teman-teman berkali-kali pun, mereka tidak ada di hati. Dan yang membuat saya heran, guru yang ada di hati adalah mereka yang mendidik murid-muridnya dengan cinta, mendidik saya dengan etika, yang itu tidak akan pernah ada dalam RPP. Jika guru ikut RPP, guru hanyalah robot berbadan manusia.

Guru yang fit adalah guru yang tidak terusik dengan pemerintah. Pemerintah mau apa, silahkan. Jika produknya bagus, alhamdulillah, karena itulah mereka digaji masyarakat. Jika produknya tidak bagus, subhaanallah, dan ketika diingatkan oleh masyarakat (karena cintanya masyarakat kepada saudaranya yang pejabat) janganlah bangun benteng pertahanan duluan. Apa susahnya, mendengarkan barang sejam dua jam, kemudian kunci lidah, camkan di memori, serap di hati. Jangan jawab saat itu, karena semuanya "apologi", bawa ke kantor, ke rapat kebijakan. Hilangkan ego, apalagi kepentingan duniawi sesaat. Menurut saya: "belum bijak kalau bergejolak". Dan ingat pula, setiap kebijakan yang berdampak, jangan lupakan akhirat, karena malaikat tidak pernah rehat mencatat.

Jika guru telah fit, maka akan ia kelola proses pembelajaran secara maksimal. Dampaknya akan ia pertanggungjawabkan secara penuh. Anak didiknya tidak lulus UN, ia akan pasang badan, anak-anaknya tidak beretika, ia tanpa sungkan berkata: "Maaf, ini salah saya".
coba.... pernah dengar ga ada guru yang bilang MAAF?
Kenapa tidak mau? karena mereka selalu direcoki, diganggu, dan dipreteli kemerdekaannya, disibukkan dengan administrasi, kompensasi yang tidak pernah mencukupi, bahkan tidak dipercaya lagi.

Bisa kita pahami jika guru mengajar seperti rutinitas mandi. sesuai RPP pun sudah alhamdulillah. Pikiran mereka hanyalah patokan kurikulum: yang penting tercapai materi. Itu siswa mau jadi apa, guru tidak peduli, kecuali yang sudah pintar otaknya sejak awal. Padahal, jika kelas mereka diisi 40 orang siswa, maka seorang guru minimal harus mempersiapkan 40 treatment. Isi satu batok, tidak mungkin sama dengan isi batok-batok tetangganya. dan... guru yang rutin, hanya punyai 1 cara untuk menempa 40 kepala. Oleh karena itu, jangan pernah bayangkan outputnya akan seperti apa.

Yu mari kita bayangkan, "bisakah RPP arahnya sama dengan yang dikehendaki sang Baginda?"
bisa saja terjadi sinkronisasi, tapi itu hanya bagi guru yang militan dan komitmennya tinggi hanya karena Allah, meski ia harus melabrak ke sana kemari dalam hal administrasi dunia. Mereka itu yang hanya berfikir bahwa esensi KBM di sekolah adalah bagian dari pengabdian kepada Allah SWT., adapun perolehan gaji/insentif/bonus atau apalah namanya, itu adalah indikasi cinta-Nya dan pemenuhan janji-Nya dalam bentuk duniawi.

Mengakhiri,
saat ini saya senang dengan SD Peradaban di Serang, SMP Qoryah Toyyibah SalaTiga, Kolesse de Britto Jogja, Muthahhari Bandung, MAN 3 Malang, saya mencintai pemikiran DikDoank (Kandang Jurang Doank), saya suka Dr. Seto, Dr. Arif Rahman juga. yang lain-lain tidak disebut, maaf ya... biar Allah yang menyebut Anda-anda semua. dan jauh di atas segalanya, tentunya Baginda Rasul Muhammad SAW.

kepada semua, maaf ya...
astaghfilullah al-adlim

Sabtu, 15 Mei 2010

mi... Anak kita: our Successor

Betapa bahagianya hidup, betapa sempurnanya bentuk, dan betapa dicintanya makhluk.
"Ya Allah, jadikanlah ia permata yang berkilau pahala,
dan berkahi ia menjadi imam/ma'mum yang taqwa"


Anakku, engkau penerus cita-cita Agamaku.
Engkau penghidup ragaku, penyemangat sukmaku, dan penolong surgaku.
Anakku, dengan engkau kami merasa hidup.
Engkau menggelorakan jiwa, menyertai nafsu dalam berpahala.
Anakku, engkau adalah titipan Yang Kuasa supaya saya mendapat selaksa-laksa-selaksa bahtera perbekalan kembali pada-Nya.
Ya Allah... kuatkan ia sampai akhir hayatnya.


12 Juni 2007, dalam kegugupan yang membuncah, kami dititipi amanah yang begitu berat: "menyelamatkan fitrah Allah sejak borojol sampai morodol". Bagaimana tidak berat, mengurus diri sendiri saja kita selalu hampir kehabisan akal untuk mencari jalan keluar yang terbaik bagi kemaslahatan kita. Belum juga masalah itu selesai terurus, kami sudah harus ujian lagi. Meski --dalam setiap kelahiran anak-- Allah telah menempa kita dalam diklat yang "melelahkan" selama 9 bulan, tetap saja kesulitan itu selalu ada mendera.

Tapi... Allah memang Maha Adil. Allah sang Pencipta yang tidak lupa dan alpa menyertai kita. Allah beri kita jaminan hidup lurus di jalan-Nya. Sistem untuk manusia (input-process-output) telah Allah sediakan dengan sempurna. Jika Allah memberi ujian, bahan dan sumbernya telah Allah berikan sebelumnya. Jika menemui kesulitan, Allah juga telah sediakan alatnya. Jika kita kelelahan mencari alat-alatnya, Allah juga yang menjadi penyemangat kita melalui firman-firman-Nya. Jika kita haus, kecewa, dan hampir putus asa; Allah "jaminkan" Ia dan seluruh balatentara-Nya dalam perkataan manusia: "Mintalah pada-Ku, kujamin engkau mendapatkan apapun yang kau mau". Subhaanallah...

19 April 2010, titipan kedua datang lagi. Setelah yang pertama kukasih visi: "Sajjad", kali ini kami berikan mimpi untuk menjadi "Raihana" laksana ar-Rahman, firman Allah yang menggetarkan hati. Kehadirannya membuktikan kekuasan-Nya yang tanpa tanding, kehadirannya memberikan berjuta gurun sahara pahala, dan kehadirannya memberikan refreshing spirit yang berulang supaya kita tetap teguh memegang tali-Nya.

Dalam perjalanan kehadiran kedua anugerah itu, kenapa pula ya ada yang tidak rela dengan diperjalankannya kami oleh Allah dalam rel yang diharapkan, padahal ia telah terjamin oleh Allah untuk tidak modar sampai qiyamat tiba. Ia selalu berusaha membuat sekat bisikan dan benteng hasutan supaya kami berada dalam suasana konflik. Meski kami berupaya untuk mengusirnya dengan al-Insyiroh dan an-Naas, ia tetap kukuh berada di dekat kami, dan mengajak kami untuk lupa mengucap "Subhaanallah, ALhamdulillah, Laa ilaaha illa Allah, wAllahu Akbar"

Namun demikian, sajjad&raihana tak kenal lelah membisiki kami: "Umi, Abi, didiklah kami untuk menjadi generasi penerus yang tangguh supaya kami menjadi hizbullah dan menyempurnakan keinginan-keinginan umi&abi yang belum terselesaikan" dan kami menjadi semangat kembali untuk mengeliminasi setiap "yang tidak rela" dengan kami.

terkutuklah kau setan!!! see u in the other world
Madu, satu kata yang tak pernah kulupa darimu... "Allah mah Maha Adil mang..."

Jumat, 19 Maret 2010

UN lagi... UN lagi...

TIGA hari lagi, anak-anakku siswa SMK akan melangsungkan Ujian Nasional (UN). Tepat mulai Senin, 22 Maret 2010, mereka akan mulai berjuang untuk mendapatkan hasil terbaik seperti yang mereka dan kami harapkan.

Yang mendebarkan adalah UN menjadi penentu semua jerih payah siswa selama tiga tahun belajar, sehingga wajar jika berbagai rasa bercampur aduk. Ada cemas, ada khawatir, dan ada takut jika salah satu dari empat pelajaran UN SMK tidak memenuhi syarat kelulusan.

Sesungguhnya, PP. No. 19/2005 menyatakan bahwa Peserta didik dinyatakan lulus jika: a). menyelesaikan seluruh program pembelajaran; b). memperoleh nilai akhir baik pada seluruh mata pelajaran; c). lulus ujian IPTEK; dan d). lulus Ujian Nasional. Tapi, entah kenapa UN menjadi begitu "menyeramkan".

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, rekan-rekan SMK mengadakan program bimbingan belajar, drilling, tryout, pemadatan, dan program-program penambah beban lainnya. Apalagi, untuk tahun ini ada peningkatan nilai kelulusan dari 5,25 menjadi 5,50 untuk bisa dinyatakan lulus. Siswa yang sudah stress semakin tambah stress karena tidak kita sadari bahwa kita menjadi terbawa suasana yang membuat warga sekolah stress semua.

Coba, tak ada salahnya kan kalau kita rileks sejenak? Sekolah tidak perlu berlebihan mempersiapkan para siswanya dalam menghadapi UN, tidak ada bedanya kan dengan UN tahun-tahun sebelumnya? Selain itu, pemerintah menyediakan ujian susulan bagi mereka yang gagal.

Saya sangat meyakini bahwa jika guru dan sekolah telah "menggoreng" siswa dengan proses pembelajaran yang baik, maka hasil yang didapatkan siswa juga akan baik. Apakah dengan memadatkan pembelajaran dengan bimbingan belajar lantas siswa pengikut bimbel otomatis lulus? hanya Allah yang Maha Tahu.

Anak-anakku, dan teman-teman anakku, kalian tidak perlu takut atau cemas tanpa alasan. Inilah saatnya bagi kalian untuk membuktikan bahwa kalian bisa lulus dengan hasil yang memuaskan di UN utama. Kerahkan semua kemampuan yang ada, berusaha lebih fokus dan tenang dalam menjawab semua soal ujian. Jika itu terlaksana dengan baik, niscaya tak ada kata gagal bagi kalian. Semoga apa yang kalian dan pihak sekolah harapkan dapat tercapai, dan jangan lupakan Tuhanmu Yang Maha Kuasa.

Sabtu, 11 April 2009

CHANGE !!!

Sebetulnya, hiruk pikuk '97 mampu kita manfaatkan sebagai media evaluasi dan realisasi untuk mereformasi total seluruh pemangku sistem (pejabat) yang korup, tidak amanah, dan terbukti loyo menghadapi badai. Bila perlu, sistem yang sengaja dilobangi oleh pejabat politik di DPR, direvisi total berdasarkan kebutuhan masyarakat banyak dan budaya luhur bangsa Indonesia. Sambil mengerenyitkan kening, kita hampir terlonjak bahwa pejabat dan sistem seperti itu masih dipertahankan. Katanya: "masih dibutuhkan bangsa dan merubah sistem itu tidak semudah menggiling gabah!!". Hei... lupa ya bahwa penduduk Indonesia itu bukan hanya dia, bukankah gotong royong itu merupakan budaya luhur bangsa? Kasihan banget ya para penduduk yang arif nun jauh di sana!!

Pertanyaan yang tidak pernah ditemukan jawabannya sampai sekarang adalah kenapa orang-orang yang telah diberi amanah oleh rakyat dengan tanpa rasa bersalah sedikitpun, dan dengan mudahnya melupakan janji-janjinya pada diri sendiri, bangsa, dan agama. Ia lupa baca Yasin kali ya... atau ia sering melewati ayat 65, tapi tak pernah tahu apa arti dan signifikansi dari firman Allah itu. Padahal... ketika ia istighosah, ketika majelis ta'lim diadakan di rumah (dinas) nya, ada kyai kan di sana? surat Yasin seringkali dibaca kan?

Kalau belum tahu, nih... (maaf-maaf ya...) saya sampaikan sedikit (mudah-mudahan kewajiban saya "falyughoyyir" terlunasi) "Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan". Hei... kalau sudah begitu, apakah dikau masih bisa berkelit juga? tahukah juga Anda bahwa mahkamah paripurna nanti akan disaksikan oleh seluruh umat manusia? kalau masih ga percaya, coba bapak/ibu semua tengok dan ziarahi Q.s. az-Zilzaal [99]: 7-8. Atau masih belum takut juga? saya kasih satu lagi ya... yaitu firman Allah dalam Q.s. al-Ghasyiyah.

Di sisi yang lain, saya melihat kenapa mereka begitu berani, berkuasa, balaga, gagah perkasa ngabinasa, itu tidak lain karena masyarakatnya dibuat tidak berdaya, (maaf-maaf ya...) dimiskinkan supaya mereka sibuk dengan ngurusi kebutuhan dapur ngebulnya dulu, dan mereka kehabisan potensi pikir untuk ikut mengawasi dan meluruskan kesewenang-wenangan yang terjadi dalam pengelola negara.

Mau tahu ga "omong" orang Pandeglang (ga semua ya...) ketika mau Pilkada? "rek birokrat, rek kyai, rek pebisnis, rek bangsawan, aing mah teu paduli, kabeh ge garong. Nu penting mah karasa uyahna ayeuna!!!" Na'udzu billahi min dzalik! kalau benar teh, qiyamat shugro. Ketika orang yang sadar menginginkan dan mengajak: "Hei para warga! inilah saatnya perubahan! mari kita satukan langkah sesuai syariah", ee...h jawaban yang diajak ternyata seperti itu. Akhirnya, mentalitas bumbu dan buah-buahan lah yang memenangi pertempuran. Ada gula ada semut, garam asin tandanya lidah masih normal, cabe digigit rasanya pedas, jeruk diperas manis bisa didapat. Masyarakat sudah menjauh dari mentalitas: "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian". Mereka sudah lupa bahwa untuk memperoleh kebahagiaan, alamiah-ilmiah dari Allah adalah harus berupaya keras, bekerja cerdas, dan beramal ikhlas.

Kolaborasi yang cantik-sistemik dan disengaja seperti itulah yang membayang-bayangi kehancuran ekosistem bumi yang telah dicipta sempurna oleh Allah. Masyarakat di sekitar Labuan tidak berdaya ketika batu-batu berterbangan pindah alam, meski mereka menyadari bahwa ada bahaya besar yang sedang menunggu di kemudian hari. Pengelola alam bukannya memberi proteksi, dan berkolaborasi dengan alam demi kelestarian, ternyata ikut memberi persetujuan tercerabutnya keseimbangan. Jadi, jangan salahkan air, jangan salahkan angin, jangan salahkan api, jika mereka menyerang kita. Dan yang mengherankan, kenapa ilmu matematikanya tidak dimanfaatkan untuk kesejahteraan? cost-benefit analysis-nya malah disembunyikan di brankas-brankas rekening yang dalam sampai PPATK pun tidak mampu menjangkaunya. Apakah sumber daya alam itu milik nenek moyangnya? mereka tetap lupa bahwa yang memberi nyawa adalah Allah SWT. yang telah menitipkan: "Hai manusia, peliharalah bumi untuk kemaslahatan bersama!!"

Nih saya kasih gambaran ya.... (maaf kalkulasi orang bodoh mah ga karuan!)
Banjir itu datang karena penggundulan hutan, tolong dijumlah berapa kerugian karena banjir? satu contoh nominal adalah "Kerugian Banjir Besar Jakarta Ditaksir Rp 37 Triliun" (Sabtu, 13 Februari 2010 | 19:58 WIB TEMPO Interaktif). Untuk lebih afdol silahkan ditambahin dengan banjir-banjir lain. Trus, hutan gundul itu kan karena pasak kelestarian bumi-nya ditebang, katanya untuk PAD, APBD, atau apalah namanya, coba dihitung berapa nominalnya? matematika sederhana kan? anak SD juga bisa, mungkin juga ga bisa karena nol-nya sangat panjang. Berapakah saldonya? plus atau minus? kalau masih belum ketemu, sekalian tak tambahin ya... Hilangnya pohon itu membuat potensi air kita berkurang drastis --kalau tidak mau dikatakan sirna. Berapa coba fulus yang harus dikeluarkan untuk mengkompensasi hilangnya air tersebut? ga pa pa ya konflik karena air mah ga usah dihitung, karena itu mah "priceless" alias tidak bisa dinominalkan (saking mahal harganya).

Masih kurang puas? Dengan air yang cukup, warga masyarakat tidak perlu bersusah payah ke sungai (selokan) untuk mandi dan mencuci. Tapi, karena kebutuhan itu tidak terpenuhi (kan pohon/hutannya sudah habis), dengan sangat terpaksa mereka rela berkompetisi dengan tetangga, bahkan kerbau ikutan juga, merasakan air sungai yang bercampur-campur tidak karuan. Ada tinja, ada sisa makanan, air sabun, kotoran hewan (wah virus-virus senang bersilaturahmi dengan teman-temannya), yang menurut dinas kesehatan dikategorikan sebagai wilayah potensial berjangkitnya penyakit. Apakah itu juga bukan uang?

Akhirnya, dengan gambaran itu, Qita berubah yu.... kata Gusti Allah: "ndak akan Ku-ubah itu negeri, bangsa, atau masyarakat, kalau mereka sendiri ga insyaf/taubat nashuha". Saudara-saudariku bisa dilihat di Q.s. ar-Ra'du [13]: 11 dan di al-Anfal [8]: 53. Kalau tidak, maka layak lah bersanding dengan Fir'aun yang celaka karena kebodohan dan kesombongannya.

Kalau tetap ga mau, ga pa pa kan saya simpulkan bahwa (kebanyakan) orang Indonesia itu ....
1. miskin, karena ia rela jadi orang miskin
2. bodoh, karena ia senang dibodohi
3. tidak maju, karena sudah merasa gembira jadi makhluq terbelakang
4. kalau mau berubah, reformasinya setengah hati, karena penyakit WAHN bersemayam.
5. mayoritas senang jadi pengekor, dan ...
6. kalau tidak, semua ... ribut ingin jadi pemimpin

astaghfirullah al-adliim

Jumat, 10 April 2009

dont waste the child because of age

Alhamdulillah, --antara suka dan duka-- tanggal 11 Juni nanti, ia hampir menyempurnakan ASI-nya 2 tahun sesuai dengan tuntunan al-Qur'an (haulaeni kamilaeni). Ketika most of madam menggunakan 'upaya-upaya' yang agak 'tidak cerdas' dan ilmiah (karena malas & karepe instant), Qt berusaha untuk memberikan alarm sejak dini bahwa di tanggal tersebut, ia harus stop minum/makan ASI, secara sadar tanpa 'upaya-upaya' yang tidak mendewasakan ia sebagai anak yang smart, clever, and fast understanding.

by case, Ketika kita semua prepare to rest, ketika ia mulai menggantung ke umi-nya, Qt b-2 kompak dengan hati masing-masing said to him: "Sajjad tanggal 11 Juni nanti lepas y... minum ASI-nya!!" seketika itu pula ia menghadap mukanya ke Qt ber-2, melepaskan aksinya ngenyot, sambil tersenyum cerdas, (mungkin sambil berkata: OK, I agree). seketika itu pula, perasaan lelah, lemas, cape, dsb, dll, selama menemani aktivitasnya sejak ia bangun, hilang sudah ditarik alam untuk dikembalikan ke bumi sebagai keseimbangan hidup manusia.

Hanya kepada Allah-lah kita semua berharap, meminta pertolongan, dan curhat atas apa yang telah kita rasakan semala mata ini melek.

:) by

Jumat, 10 Oktober 2008

ia bernama M.SAJJAD.FM

di tahun 2007, mengikuti tanggal kelahiran ibunya, Allah SWT. memberi beban kepadanya untuk menghirup O2 yang sudah kotor terpengaruh ketamakan manusia. Ketika kehidupannya masih di perut, ia begitu tenang dengan segala kenikmatan yang ALlah berikan, meski kaki dan tangannya seringkali mengusik dan mengusili ibunya dengan jab-jab dan uppercut yang memudarkan kesabaran. Sekarang, semua filter yang dimilikinya 'dipaksa' untuk bekerja keras menahan segala tamu yang --hampir semua-- tidak dikehendakinya.

hari ini, saat tadi, ia begitu gembira dengan bahasa 'asing'nya, membuat manusia-manusia di sekelilingnya geleng-geleng antara keuheul, gereugeten, pusing, and so on. Di balik itu semua, ia adalah SMART BOY. Begitu cerdasnya, kadang membuat umi-nya jadi kebablasan sabar sehingga jadi tidak sabar lagi. Lisannya yang kadang cerewet dengan celotehan-celotehan semau die, kadang tidak bisa diimbangi dengan kerelaan para tetangge se-ikhlas-ikhlas-nye menerima bahwa ia adalah manusia unik yang sedang melakukan proses penyerapan dan pengumpulan ilmu, pengetahuan, dan wawasan.

subhaana-Allah, wa alhamdulillah, wa laa ilaaha illa Allah, Allah-u Akbar!